... a journal to remember

a journal to remember

756 notes &

Jangan Berhenti Melangkah

Kita pernah duduk bersama-sama di dalam bumi yang sama. Meski kita duduk sendiri-sendiri dikursinya masing-masing. Kita pernah berpapasan di jalan ketika menikmati sore hari. Meski kita tidak ingat lagi kapan itu terjadi. Sebab kita tidak saling kenal.

Kita bergerak seperti daun-daun yang jatuh. Tidak mampu menggerakkan dirinya sendiri. Pasrah dihempaskan angin kemanapun membawanya pergi. Kita menggantungkan pada takdir, percaya bahwa kita akan jatuh di tempat yang sama. Meski kemungkinannya sangat kecil, kita percaya itu mudah bagi Tuhan.

Ku kira perjalanan kita sangat panjang. Kita belum bertemu, masih sibuk menyelesaikan urusan kita sendiri-sendiri. Sibuk menata banyak hal, menyelesaikan masa lalu, menghidupkan hari ini, dan merencanakan masa depan.

Perjalanan kita masih jauh. Setiap langkah kaki kita akan mendekatkan kita. Jangan berhenti.

Bandung, 19 Juni 2014 | (c)kurniawangunadi

Jangan Berhenti Melangkah versi Suaracerita bisa didengar di X

(Source: kurniawangunadi, via kurniawangunadi)

1 note &

Hello Goodbye

Sampai ketemu lagi ya..

Sepotong kalimat dari pesan pamitan yang singkat itu saya terima siang tadi dari sahabat yang saya kenal sejak di bangku sekolah menengah pertama. Sahabat saya ini bekerja di bidang kesehatan. Mengabdikan diri sebagai perawat di daerah pedalaman Merauke sana. Dia bercerita pada saya bahwa pada dua minggu awal bekerja di pedalaman membuatnya menitikkan air mata sedih karena merasa sulit beradaptasi. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, sahabat saya ini mulai enjoy. Saya tahu dia sangat menikmati pekerjaannya dari foto-foto yang ia tunjukkan dan nada antusiasme yang terdengar ketika ia memaparkan ceritanya.

Sejak kelulusan SMA, kami hanya bertemu setahun sekali pada saat momen puasa dan lebaran. Hal ini karena saya melanjutkan studi di luar daerah dan hanya pulang ketika momen itu tiba. Saya melihat keadaan selalu berubah tiap tahun, tiap kali waktu saya pulang. Memang sudah sewajarnya begitu, bukan? Berjalannya waktu akan membuat kehidupan manusia selalu bersinggungan dengan perubahan. Times change, things change, people change, situations change. Yang tidak berubah hanyalah ingatan atau memori. Sebagian besar manusia tidak sadar bahwa mereka sedang menjalani proses perubahan dalam hidupnya. Namun, ketika menyadarinya, mereka akan berkata waktu berlalu sangat cepat.

Saya membalas pesannya dengan kalimat yang sama, berharap dapat berjumpa lagi dengannya. Saya tahu, satu tahun yang akan datang kelak jika kami berkesempatan bertemu lagi, segala sesuatunya pasti akan jauh berbeda. Menjelang akhir tahun ini, jika Allah menghendaki, dia akan menggenapkan separuh dien-nya. Sedangkan di belahan kota lain, saya akan berusaha menggenapkan separuh perjalanan studi magister. Alhamdulillah ;)

Sekarang saatnya melanjutkan hidup masing-masing sembari menunggu kapan kedua garis takdir akan bersinggungan dan mempertemukan kami kembali, dalam keadaan yang lebih baik.

We miss our old days and wanna go back there again. But we can’t wait to see what’s in the future. What kind of change will time bring?

image

576 notes &

Tulisan : Menyelesaikan Diri Sendiri

kurniawangunadi:

Sebelum memulai kebersamaan. Aku harus menyelesaikan urusanku terhadap diriku sendiri terlebih dahulu. Karena aku tidak ingin membawa urusanku sewaktu kita duduk bersama dan berjalan bersama. Agar kita —terutama aku— tidak sibuk mengurus urusanku ketika kita telah memulai perjalanan. Hingga urusan itu menghambat langkah kita untuk maju.

Sebelum kita berjalan bersama. Biarkan aku sibuk sendiri dengan diri ini. Aku bisa menyelesaikannya dan kamu cukup tenang dan jalani hidupmu sebagaimana biasanya. Tidak perlu sibuk khawatir dan mencemaskan keberadaanku. Bila pun aku tak kunjung selesai, kamu bisa memulai langkahmu lebih dulu. Tidak perlu menungguku. Aku juga tidak memintamu untuk menunggu, kan?

Sebelum memulai kebersamaan. Aku akan menyelesaikan urusan-urusanku yang belum selesai. Seperti urusanku terhadap masa lalu, terhadap keluarga, terhadap impian, terhadap orang-orang lain (yang ternyata aku memiliki salah), terhadap agamaku, dan urusan-urusan lain. Karena aku tidak mau langkah kita nanti berkali-berkali berhenti. Tertahan karena urusan-urusanku yang terbengkalai.

Berjalanlah sebagaimana kamu berjalan. Tidak perlu melihatku dengan rasa kasihan. Aku tidak perlu dikasihani. Perjalanan kita saat ini belum bertemu. Tidak perlu berusaha memaksakan dirimu untuk mengambil jalan yang sedang aku tempuh. Selesaikanlah urusan kita masing-masing terhadap diri kita sendiri terlebih dahulu. Sebab bagiku —dan aku harap bagi kita juga— waktu ketika bersama jangan sampai terganggu dengan urusan lama kita. Karena aku percaya, langkah kita tidak akan berhenti sampai di sini. Meski kita sama-sama tahu, mungkin saja perjalanan kita tidak akan bertemu. Tapi kita akan sama-sama belajar.

Rumah, 2 Agustus 2014 | (c)kurniawangunadi

untuk setiap orang yang merencanakan hidup bersama dengan orang lain, selesaikanlah urusanmu terhadap dirimu sendiri terlebih dahulu :)